Setelah usia 4 atau 5 bulan, kepribadian bayi Anda akan mulai terlihat. Anda akan mulai bisa menduga, apa yang bikin dia kesal atau terganggu. Nah, pilih karakteristik yang paling sesuai dengan temperamen dia (mungkin saja lebih dari satu). Setelah itu, cobalah tip berikut ini untuk membuat dia (dan Anda!) lebih bahagia.
Pemalu/mudah takut
Karakter sifat utama: Sering tak mau dilepas dan mudah gelisah.
Tantangan: Bertemu orang baru, berada diantara banyak orang, da-dah ketika orangtuanya harus berangkat kerja.
Strategi menenangkan: Jangan paksa dia berinteraksi dengan orang lain. Tapi juga jangan terlalu mengisolasi dia dari orang lain. Dengan lembut perkenalkan dia pada situasi lingkungan sekeliling yang baru.
Mudah ngambek
Karakter sifat utama: Suka semaunya sendiri, sering menangis dan gampang kesal.
Tantangan:Mainan-mainan yang agak susah diutak-atik, beranjak dari permainan atau situasi yang asyik dan menyenangkan, perubahan dari suatu rutinitas.
Strategi menenangkan: Bayi dengan sifat seperti ini mudah marah, jadi cobalah lebih sabar. Akan membantu kalau Anda memberikan dia masa transisi di antara berbagai kegiatannya. Jangan biarkan dia menyentuh mainan atau buku di toko bila Anda tak membelinya. Disiplinlah pada rutinitas yang menenangkan.
Sensitif
Karakter sifat utama: Gampang resah dan rewel.
Tantangan: Pakaian yang tak nyaman, merasa terlalu panas atau terlalu dingin, lingkungan yang berisik, tempat yang terlalu terang.
Strategi menenangkan: Hindari kain-kain yang gatal seperti wool, dan gunting label pakaian yang bisa mengganggunya. Pilih tempat belanja terdekat kalau mengajak dia, karena bayi dengan sifat seperti ini mudah ngambek dan berapi-api.
Selalu ceria
Karakter sifat utama: Tidak rewel dan mudah tersenyum
Tantangan: Sedikit sekali. Tapi, bahkan anak yang paling manis pun bisa rewel.
Strategi menenangkan: Anda termasuk beruntung! Bayi seperti malaikat ini jarang sekali membutuhkan penanganan khusus.
Aktif
Karakter sifat utama: Maunya bergerak terus, tak mau diam.
Tantangan: Duduk diam selama beberapa waktu tertentu, sebut misalnya di restoran, duduk tenang di kursi makan.
Strategi menenangkan: Saat di mobil menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sering-seringlah berhenti agar dia bisa bebas dari tempat duduknya. Sediakan mainan seperti bola-bola yang bisa melambung dan peralatan olah raga yang jumlahnya cukup, untuk mengimbangi energinya yang seolah tak terbatas.
Sumber: Parenting Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Januari 2008
Jumat, 16 November 2007
Mengenali Perilaku Anak

Mungkin Anda sudah pernah mendengar peribahasa "buah jatuh tidaklah jauh dari pohon/induknya", yang artinya bahwa sifat-sifat dari orang tua secara umum juga ada pada anaknya, termasuk dalam hal ini adalah perilaku orang tua.
Namun demikian peribahasa tersebut tidaklah 100% benar, karena beberapa perilaku sang Anak bukan bersumber dari orang tuanya. Lingkungan dan pergaulan si Anak juga akan sangat berpengaruh terhadap karakter si Anak.
Seringkali orangtua malah merasa kewalahan dan khawatir terhadap perilaku anak yang menjurus ke hal-hal yang buruk. Biasanya perilaku buruk seorang anak disebabkan karena pemenuhan kebutuhannya yang terhambat, frustasi, ataukah sedang merasa terancam oleh faktor-faktor tertentu.
Ada beberapa hal yang menyebabkan timbulnya perilaku buruk seorang anak, yaitu sbb.:
- Menjadi korban kekerasan. Beberapa anak yang berperilaku buruk kemungkinan pernah mengalami tindakan kekerasan dari orang tua, saudaranya, pengasuhnya, ataukah dari teman-temannya. Biasanya setelah mengalami hal ini, si Anak akan meniru perbuatan tersebut.
- Merasa dirinya lain dari yang lain. Buat seorang anak kecil, berbeda bisa berarti buruk dan akan menimbulkan perasaan tidak percaya diri, yang berakibat si Anak akan merasa sensitif terhadap kekurangannya tersebut.
- Merasa frustasi. Frustasi bisa muncul dari berbagai sumber. Kurangnya kasih sayang, proses pendewasaan yang terhambat, lingkungan, fisik, sosial, kemarahan dari orang tua, dll.
- Sikap Bermusuhan & Cemburu. Ini biasanya terjadi diantara saudara kandung, dimana kakak atau adik tidak dianggap sebagai teman untuk berbagi, melainkan dianggap sebagai saingan.
- Televisi. adalah termasuk hiburan dan kegiatan si Anak untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Bahkan dalam sebuah buku disebutkan bahwa televisi saat ini sudah berubah fungsinya menjadi "Pengasuh Anak".
- Pertengkaran OrangtuaIni adalah kondisi yang tidak menguntungkan untuk perkembangan si Anak, karena sering terjadi orang tua melampiaskan kemarahannya kepada anak, yang berakibat pada timbulnya kecemasan pada diri si Anak.
- Penanaman Disiplin Yang KeliruHal ini bisa menyebabkan si Anak mudah tersinggung, malu, perfeksionis, tingkah laku yang kekanak-kanakan, sering melamun, sangat tergantung sama orang lain, tidak suka bergaul
- Tekanan dari Sekolah dan KompetisiOrang tua yang memiliki pengharapan yang terlalu besar pada anak untuk menjadi anak yang berprestasi dan bisa menyelesaikan berbagai masalah dalam dunia kerja nantinya, bisa membuat si Anak tertekan.
- Gizi Anak Tidak Mencukupi. Saat ini banyak orang tua tidak menyadari pentingnya gizi terhadap kesehatan mental seorang Anak. Selain tidak tercukupinya gizi anak, masalah alergi juga sering memicu perilaku buruk seorang anak.
NB:
Membiarkan anak Anda bersama televisi hanya membuatnya tenang untuk sementara waktu, tetapi dibalik itu bahaya yang akan dialami oleh anak justru akan lebih besar. Hal ini mengingat tidak adanya sensor, jadi peranan orang tua sangat diperlukan disini. Alihkan tontonan Anak ke hal-hal yang baik dan sesuai usia si Anak, salahsatunya adalah VCD Pendidikan, atau anda bisa mencari mainan dan tontonan edukasi sebagai referensi di www.gamesinfocenter.com
Selasa, 06 November 2007
Anak Berkelahi, Bagaimana Mengatasinya ?
Biasanya sih anak-anak berkelahi karena memperebutkan sesuatu, seperti mainan misalnya. Kadang juga mereka ingin memperlihatkan kepada teman atau saudaranya siapa yang lebih berkuasa diantara mereka. Apabila ini terjadi, maka sebaiknya orangtua membiarkan mereka untuk menyelesaikan persoalan mereka terlebih dahulu. Tetapi jika mereka belum berdamai, maka Anda sebagai orang tua sudah boleh terlibat sebagai penengah, dan sangat dianjurkan untuk tidak melakukan tindakan kekerasan (memukul misalnya).
Untuk itu usahakanlah selalu bersikap netral diantara mereka dalam menyelesaikan setiap persoalan. Ini akan mengajarkan kepada mereka dan membuat mereka mengerti bahwa mereka sama-sama bersalah.
Berikut ini tips yang mungkin bisa Anda gunakan jika terjadi perkelahian atau menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke hal tersebut. Tips ini ditulis oleh seorang penulis buku psikologi anak "Jenny Gichara", berikut ini adalah tipsnya :
1. Cobalah untuk memberikan perintah sederhana, misalnya "Jangan berkelahi, tidak boleh memukul teman atau saudara".
2. Jika mereka sudah berhenti saling memukul cobalah memberikan pujian. Anda bisa mengatakan "wah.., kalian ternyata memang pintar, bisa menahan diri untuk tidak saling memukul."
3. Apabila ternyata mereka masih saling pukul, berilah peringatan dengan sebuah konsekuensi. Misalnya anda bisa mengatakan "berhentilah memukul, atau kalian berdua tidak boleh menonton TV malam ini."
4. Apabila konsekuensi yang anda berikan sudah berakhir, jangan mengkuliahi anak. Coba katakan saja kepada mereka "kalau begitu, kalian boleh bermain bersama lagi."
Untuk itu usahakanlah selalu bersikap netral diantara mereka dalam menyelesaikan setiap persoalan. Ini akan mengajarkan kepada mereka dan membuat mereka mengerti bahwa mereka sama-sama bersalah.
Berikut ini tips yang mungkin bisa Anda gunakan jika terjadi perkelahian atau menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke hal tersebut. Tips ini ditulis oleh seorang penulis buku psikologi anak "Jenny Gichara", berikut ini adalah tipsnya :
1. Cobalah untuk memberikan perintah sederhana, misalnya "Jangan berkelahi, tidak boleh memukul teman atau saudara".
2. Jika mereka sudah berhenti saling memukul cobalah memberikan pujian. Anda bisa mengatakan "wah.., kalian ternyata memang pintar, bisa menahan diri untuk tidak saling memukul."
3. Apabila ternyata mereka masih saling pukul, berilah peringatan dengan sebuah konsekuensi. Misalnya anda bisa mengatakan "berhentilah memukul, atau kalian berdua tidak boleh menonton TV malam ini."
4. Apabila konsekuensi yang anda berikan sudah berakhir, jangan mengkuliahi anak. Coba katakan saja kepada mereka "kalau begitu, kalian boleh bermain bersama lagi."
Kamis, 25 Oktober 2007
Membuat Anak Disiplin
Jelaskan peraturan Anda dan konsekuensinya. Contohnya, jika anak melanggar aturan main yang sudah ditetapkan, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk menonton televisi. Hal ini membuktikan bahwa setiap pelanggaran membawa konsekuensi tersendiri. Mendisiplinkan anak gampang-gampang susah. Jika Anda terlalu keras, ia bisa tumbuh menjadi anak yang penakut dan tidak percaya diri. Sebaliknya, jika Anda terlalu lembek, ia bisa menjadi anak manja dan egois. Bagaimana sebaiknya?
Bersikap konsisten. Jelaskan peraturan Anda dan konsekuensinya. Contohnya, jika anak melanggar aturan main yang sudah ditetapkan, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk menonton televisi. Hal ini membuktikan bahwa setiap pelanggaran membawa konsekuensi tersendiri. Dan, peraturan itu berlaku sama, untuk si kakak maupun si adik.
Bantu anak-anak untuk membiasakan diri. Usahakan jangan berpihak kepada salah satu anak. Tetapi, fokuskan upaya Anda untuk melatih anak-anak agar dapat menyelesaikan sendiri konflik yang timbul di antara mereka. Anak yang lebih kecil diberi semangat untuk menyampaikan maksudnya dengan kata-katanya yang sederhana. Sementara anak yang lebih tua diberi arahan bagaimana cara menghadapi jika sewaktu-waktu si adik merebut mainannya tanpa minta izin terlebih dahulu.(Katakan ”tidak”, tinggalkan dia, atau minta bantuan orang lain).
Tampilkan yang terbaik.
Anak Anda yang baru berusia 6 tahun perlu diberitahu bahwa memukul adalah tindakan yang salah. Tapi baginya, mungkin sulit untuk menahan diri saat adiknya melempar mainan ke arahnya. ”Hingga usia 8, seorang anak masih dalam proses belajar menguasai dirinya dalam situasi seperti itu,” kata Susan Newman, Ph.D., penulis buku Little Things Long Remembered: Making Your Children Feel Special Every Day (Hal-hal kecil yang akan lama diingat: Membuat anak Anda merasa Istimewa setiap hari). Bantulah ia menahan diri dengan mengucapkan kata-kata seperti, ”Ibu perlu bantuan untuk mengajarkan adik bahwa memukul itu salah. Kakak bisa bantu Ibu?”
Perhatikan gejala-gejala kekesalan. Bila Anda terlalu mengandalkan si sulung, mungkin ia akan merasa keberatan, berulah untuk menarik perhatian, atau melampiaskannya kepada si adik. Jika Anda melihat adanya gejala-gejala seperti itu, mungkin ini saatnya untuk mengurangi beban anak tertua Anda.
PERHATIKAN ANAK SULUNG
Tunjukkan empati.
Meski Anda menghukum anak tertua gara-gara ia bertengkar dengan adiknya, ketahuilah bahwa tidak sepenuhnya kesalahan ada di pihaknya. Katakan saja, ”Ibu tahu memang menjengkelkan sekali kalau adik menjambak rambutmu, tapi itu bukan alasan untuk mendorong dia.” Cara ini akan mencegah Anda untuk bersekutu.
Perlakukan dia sebagai anak kecil.
Jangan mengutamakan kepentingan si sulung. Bonny Strassier dari Staunton, Virginia, mengakui bahwa putranya yang berusia pra sekolah, Philip, sangat lambat belajar buang air sendiri di kloset karena Bonny merasa enerjinya telah habis untuk mengurus anak bungsunya, Benjamin.”Saya harus sering mengingatkan diri agar lebih banyak melatih Philip ketimbang menuntut terlalu banyak,” ujar Bonny.
Sampaikan dengan jelas ekspektasi Anda.
Bila ingin agar si sulung cepat belajar tata krama di meja makan, maka Anda harus memberi contoh cara makan yang baik sambil memberikan penjelasan mengapa adiknya belum diwajibkan untuk mentaati peraturan itu. (”Sekarang adik belum bisa menggunakan garpu, tapi suatu saat nanti Ibu harap dia juga bisa melakukannya dengan benar”).
Hargai perilaku yang baik.
Bila anak Anda memperlakukan adiknya dengan baik, sebaiknya tunjukkan bahwa Anda mengetahui hal itu. Bawalah dia nonton di bioskop atau khusus malam itu berikan kelonggaran 30 menit melebihi jadwal tidurnya yang biasa. Speirs menghadiahkan Siena kelereng untuk melengkapi koleksinya karena ia telah bersikap sangat baik terhadap adiknya. ”Hal kecil, tapi sangat berarti bagi Siena,” katanya.
Source : Parenting Magazine
Bersikap konsisten. Jelaskan peraturan Anda dan konsekuensinya. Contohnya, jika anak melanggar aturan main yang sudah ditetapkan, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk menonton televisi. Hal ini membuktikan bahwa setiap pelanggaran membawa konsekuensi tersendiri. Dan, peraturan itu berlaku sama, untuk si kakak maupun si adik.
Bantu anak-anak untuk membiasakan diri. Usahakan jangan berpihak kepada salah satu anak. Tetapi, fokuskan upaya Anda untuk melatih anak-anak agar dapat menyelesaikan sendiri konflik yang timbul di antara mereka. Anak yang lebih kecil diberi semangat untuk menyampaikan maksudnya dengan kata-katanya yang sederhana. Sementara anak yang lebih tua diberi arahan bagaimana cara menghadapi jika sewaktu-waktu si adik merebut mainannya tanpa minta izin terlebih dahulu.(Katakan ”tidak”, tinggalkan dia, atau minta bantuan orang lain).
Tampilkan yang terbaik.
Anak Anda yang baru berusia 6 tahun perlu diberitahu bahwa memukul adalah tindakan yang salah. Tapi baginya, mungkin sulit untuk menahan diri saat adiknya melempar mainan ke arahnya. ”Hingga usia 8, seorang anak masih dalam proses belajar menguasai dirinya dalam situasi seperti itu,” kata Susan Newman, Ph.D., penulis buku Little Things Long Remembered: Making Your Children Feel Special Every Day (Hal-hal kecil yang akan lama diingat: Membuat anak Anda merasa Istimewa setiap hari). Bantulah ia menahan diri dengan mengucapkan kata-kata seperti, ”Ibu perlu bantuan untuk mengajarkan adik bahwa memukul itu salah. Kakak bisa bantu Ibu?”
Perhatikan gejala-gejala kekesalan. Bila Anda terlalu mengandalkan si sulung, mungkin ia akan merasa keberatan, berulah untuk menarik perhatian, atau melampiaskannya kepada si adik. Jika Anda melihat adanya gejala-gejala seperti itu, mungkin ini saatnya untuk mengurangi beban anak tertua Anda.
PERHATIKAN ANAK SULUNG
Tunjukkan empati.
Meski Anda menghukum anak tertua gara-gara ia bertengkar dengan adiknya, ketahuilah bahwa tidak sepenuhnya kesalahan ada di pihaknya. Katakan saja, ”Ibu tahu memang menjengkelkan sekali kalau adik menjambak rambutmu, tapi itu bukan alasan untuk mendorong dia.” Cara ini akan mencegah Anda untuk bersekutu.
Perlakukan dia sebagai anak kecil.
Jangan mengutamakan kepentingan si sulung. Bonny Strassier dari Staunton, Virginia, mengakui bahwa putranya yang berusia pra sekolah, Philip, sangat lambat belajar buang air sendiri di kloset karena Bonny merasa enerjinya telah habis untuk mengurus anak bungsunya, Benjamin.”Saya harus sering mengingatkan diri agar lebih banyak melatih Philip ketimbang menuntut terlalu banyak,” ujar Bonny.
Sampaikan dengan jelas ekspektasi Anda.
Bila ingin agar si sulung cepat belajar tata krama di meja makan, maka Anda harus memberi contoh cara makan yang baik sambil memberikan penjelasan mengapa adiknya belum diwajibkan untuk mentaati peraturan itu. (”Sekarang adik belum bisa menggunakan garpu, tapi suatu saat nanti Ibu harap dia juga bisa melakukannya dengan benar”).
Hargai perilaku yang baik.
Bila anak Anda memperlakukan adiknya dengan baik, sebaiknya tunjukkan bahwa Anda mengetahui hal itu. Bawalah dia nonton di bioskop atau khusus malam itu berikan kelonggaran 30 menit melebihi jadwal tidurnya yang biasa. Speirs menghadiahkan Siena kelereng untuk melengkapi koleksinya karena ia telah bersikap sangat baik terhadap adiknya. ”Hal kecil, tapi sangat berarti bagi Siena,” katanya.
Source : Parenting Magazine
Selasa, 21 Agustus 2007
Tips Ketika Anak Bertengkar
Sering sekali kita menemukan atau mendengar anak-anak bertengkar satu dengan lainnya, dan kita sebagai orang tua punya kebiasaan untuk langsung memvonis atau menyalahkan si kakak, padahal belum tentu si kakak yang bersalah. Ini tentu saja menjadi hal yang keliru untuk perkembangan psikologi anak-anak.Ada beberapa cara yang bisa dilakukan ketika kita mendengar atau melihat anak-anak (dalam hal ini kakak-adik) bertengkar, yaitu:
- Hindari menjatuhkan vonis, jangan langsung memutuskan atau menyimpulkan siapa yang bersalah. Hal ini terutama saat kejadian kita tidak melihatnya secara langsung.
- Hentikan Perkelahian, pisahkanlah kedua anak Anda yang sedang bertengkar tersebut dengan tenang. Selanjutnya tunggulah kurang lebih selama 30 menit sebelum Anda memutuskan apa-apa.
- Ambillah mainan yang mereka perebutkan (jika ini yang menjadi sumber pertengkaran). Ini untuk memberikan pelajaran kepada kedua belah pihak bahwa mainan atau apapun yang mereka perebutkan akan disita oleh Anda. Cara ini dimaksudkan agar mereka nantinya mau berbagi.
- Sesuaikan Ekspektasi Anda.Tentukan standar perilaku anak-anak Anda sesuai dengan usia dan bawaan masing-masing. Cobalah untuk tidak menilai berlebihan perkembangan emosional anak yang lebih tua. Jangan juga merendahkan kemampuan si Adik (atau yang lebih muda) untuk bersikap baik.

Jangan juga membandingkan sebab Membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya hanya akan menciptakan permusuhan atau rasa dendam. Jika Anda membandingkan dengan tujuan untuk mendorong semangat, tunjukkan saja betapa setiap anak telah berubah. Lakukanlah pendekatan kepada masing-masing Untuk mengatasi persaingan antar kakak beradik, sebaiknya luangkan waktu Anda secara khusus untuk masing-masing dari mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)