Selasa, 06 November 2007

Waspadalah Terhadap Serangan Meningitis

Penyakit meningitis ini sudah merenggut jutaan balita diseluruh dunia dan tergolong sangat serius. Kalaupun penderita penyakit ini bisa bertahan hidup, maka mereka akan menderita kerusakan otak, lumpuh, tuli, epilepsi, dan retardasi mental.

Penyakit meningitis ini disebabkan oleh bakteri Streptococcus Pneumoniae, Haemophilus Influezae, dan Niesseria Menigitides. Namun bakteri Streptococcus Pneumoniae (pneumokokus) diyakini sebagai yang paling sering menyerang bayi dibawah usia dua tahun. Waktu yang dibutuhkan hingga gejala penyakit ini muncul juga sangat pendek, yaitu hanya sekitar 24 jam.


Sumber Penularan

Penularan penyakit akibat bakteri pneumokakus biasanya disebabkan oleh percikan ludah saat bersin, berbicara, batuk dari penderita kepada orang yang sehat. Selain bayi dan para lanjut usia, mereka yang saat sementara dirawat di rumah sakit diyakini yang paling sering diserang penyakit ini.


Pencegahan
Menurut ikatan dokter anak indonesia, untuk mencegah serangan penyakit akibat bakteri pneumokokus ini direkomendasikan untuk diberikan vaksin konjugat pneumokokus. Vaksin tersebut diberikan kepada bayi dan anak-anak usia 2 bulan sampai dengan 9 tahun. Namun masih menurut ikatan dokter anak indonesia, pemberian vaksin ini paling bagus diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, serta usia 12 s/d 15 bulan.


Gejala Meningitis Pada Bayi

1. Demam
2. Kejang pada tengkuk
3. Rewel/Gelisah
4. Susah Makan
5. Menangis terus menerus
6. Lemah
7. Intensitas interaksi berkurang
8. Ubun-ubun membenjol


Gejala Meningitis Pada Anak

1. Demam
2. Kejang pada tengkuk
3. Sakit kepala
4. Mual-mual
5. Bingung
6. Serangan mendadak
7. Tidak suka cahaya terang
8. Ruam disekujur tubuh

Anak Berkelahi, Bagaimana Mengatasinya ?

Biasanya sih anak-anak berkelahi karena memperebutkan sesuatu, seperti mainan misalnya. Kadang juga mereka ingin memperlihatkan kepada teman atau saudaranya siapa yang lebih berkuasa diantara mereka. Apabila ini terjadi, maka sebaiknya orangtua membiarkan mereka untuk menyelesaikan persoalan mereka terlebih dahulu. Tetapi jika mereka belum berdamai, maka Anda sebagai orang tua sudah boleh terlibat sebagai penengah, dan sangat dianjurkan untuk tidak melakukan tindakan kekerasan (memukul misalnya).

Untuk itu usahakanlah selalu bersikap netral diantara mereka dalam menyelesaikan setiap persoalan. Ini akan mengajarkan kepada mereka dan membuat mereka mengerti bahwa mereka sama-sama bersalah.

Berikut ini tips yang mungkin bisa Anda gunakan jika terjadi perkelahian atau menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke hal tersebut. Tips ini ditulis oleh seorang penulis buku psikologi anak "Jenny Gichara", berikut ini adalah tipsnya :

1. Cobalah untuk memberikan perintah sederhana, misalnya "Jangan berkelahi, tidak boleh memukul teman atau saudara".

2. Jika mereka sudah berhenti saling memukul cobalah memberikan pujian. Anda bisa mengatakan "wah.., kalian ternyata memang pintar, bisa menahan diri untuk tidak saling memukul."

3. Apabila ternyata mereka masih saling pukul, berilah peringatan dengan sebuah konsekuensi. Misalnya anda bisa mengatakan "berhentilah memukul, atau kalian berdua tidak boleh menonton TV malam ini."

4. Apabila konsekuensi yang anda berikan sudah berakhir, jangan mengkuliahi anak. Coba katakan saja kepada mereka "kalau begitu, kalian boleh bermain bersama lagi."